Selasa, 19 Agustus 2014

Idul Fitri Buat Fitri

Senja akan berganti malam yang berhias bintang, menyambut bulan ramadhan yang akan datang keesokan harinya. Entah kenapa belakangan ini aku teringat akan sahabat karibku ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu. Namanya Fitri, kami sudah berteman dari sejak masih di Sekolah Dasar hingga Aliyah, walaupun kami tidak selalu satu kelas, tapi kami sering bertemu. Setelah, lulus dari Aliyah kami memang jarang bertemu bahkan tidak pernah. Aku tak tahu apakah ini hanya perasaan rindu dengannya atau pertanda lainnya. Aku sudah beberapa kali bermimpi tentang sahabatku itu, dan apabila aku bertanya kepada Ibuku, beliau menjawab, “Mungkin kamu sedang rindu dengannya, kalian kan sudah 2 tahun tidak pernah bertemu, kenapa gak ngadain Buka bersama aja kan bisa sekalian reuni dengan teman-teman” begitulah saran beliau kepadaku. Sepertinya boleh jug ide Ibuku itu, tapi memang tak mudah berkomunikasi dengan teman-teman SDku dulu. Apalagi kita sudah 8 tahun tak bertemu.
Saat bulan Ramadhan aku mengisi waktu luangku dengan kerja sambilan di toko baju tepatnya di sebuah pasar tradisional. Kebetulan kuliahku sedang liburan semester, jadi sayang kalau waktunya hanya digunakan untuk duduk manis dirumah dan tidak mempunyai kesibukan. Ketika pertama aku bekerja di toko, tak sengaja aku bertemu dengan ibu sahabatku fitri yang juga berdagang di pasar. Beliau menjual kebaya dan seragam serta menjahit kebaya sesuai dengan pesanan para pelanggan.
Assalamu’alaikum bu…” sapaku kepada ibu fitri.
wa’alaikumsalam…eh kamu in, ibu kira siapa,, kamu katanya kuliah yaa?” jawab ibu fitri dengan tersenyum
hehe…iya bu, Alhamdulillah atas Ridhlo Allah saya bisa nerusin kuliah”
kamu kok tumben ke pasar, mau belanja apa?” Tanya ibu fitri.
enggak bu, kebetulan kuliah saya sedang liburan semester, jadi saya kerja buat ngisi waktu luang, Oh iya bu, fitri sekarang kerja di mana yaa kok saya gak pernah ketemu?” tanyaku pada ibu fitri
di rumah aja in, kadang dia juga nganter jemput ibu ke pasar” jelas ibu fitri padaku
Owh,,, yaudah bu saya mau kesini dulu takut dicariin bos saya…Assalamu’alaikum” pamitku sambil bersalaman dengan ibu fitri.
owh iya,,iya,, wa’alaikumsalam, kapan-kapan mampir kerumah yaa?”
Pasti bu kalau ada waktu luang saya mampir” jawabku kepada ibu Fitri
Aku berjalan meninggalkan ibu fitri dan menuju tempat kerjaku dan akupun kembali bekerja. Aku dan fitri sudah sangat dekat bahkan hampir seperti keluarga. Fitri mempunyai keluarga yang sangat bahagia walaupun hidup mereka sederhana. Sejak masih berusia beberapa bulan fitri sudah ditinggal oleh ayahnya sama sepertiku, hanya bedanya aku ditinggal ayahku sejak masih dalam kandungan ibuku. Fitri mempunyai satu kakak dan adik laki-laki. Jadi dia adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarganya. Fitri terbilang sangat pendiam dan gak suka neko-neko, rajin, dan mengalah, bahkan dia rela berjalan kaki ketika berangkat ke sekolah dan sepedanya diberikan untuk adiknya. Kalau ingat zaman-zaman sekolah dulu aku suka ingin balik jadi anak sekolah lagi yang suka kumpul-kumpul sama temen-temen, belajar bareng, dan nyepeda bareng kalau mau berangkat dan pulang sekolah. Sayang semua itu sudah tinggal kenangan.
Selang waktu berganti, tak terasa ramadhan pun sudah sampai pada pertengahan bulan. Waktu benar-benar terasa sangat cepat berlalu, dan sebentar lagi Idul Fitri pun akan tiba. Setelah pulang tarawih dan tadarus aku biasanya bermain social media seperti twitter, facebook, dan email. Dan ketika aku membuka twitter, salah satu temanku saat SD mengirirm pesan di twitter.
Hai kakak-kakak alumni SD 1 Wergu Kulon, tolong kirim Nomor Hape kalian yaa… karena akan ada info yang sangat penting untuk kalian..hehe. jangan Lupa yaa
Setelah aku baca ternyata pesannya dari Dita teman SDku dulu, tanpa pikir panjang akupun mengirimkan nomor hapeku kepada Dita. Keesokan harinya, aku mendapat sms dari Dita yang isinya adalah:
Assalamu’alaikum kakak-kakak, kita ada rencana mau ngadain BUBER nich, yaa itung-itung sekalian reuni lah…tolong yang belum tahu dikasih tau yaa dan yang bisa hadir silahkan konfirmasi sekarang…nanti tempatnya ditentuin bareng-bareng”
Akupun setuju dengan rencana itu dan aku usahain untuk datang walaupun kerjaku pulangnya sore. Tak sabar menanti moment-moment kebersamaan bersama alumni-alumni temen SD dulu. Hingga terlintas olehku
Gimana yaa penampilan teman-teman SD dulu? Pasti udah pada berubah dech? Jadi gak sabar pengen cepet-cepet BUBER…hehehe”
Tak lama kemudian Dita mengirimkan sms lanjutan sehubungan dengan acara BUBER kita.
Hai…pasti udah gak sabar yaa menanti BUBER kita lusa, besok kita BUBER tempatnya di wajan mas belakang gedung DPRD jam setengah 5. Inget yaa kakak-kakak harus on time jangan ngaret-ngaret yaCh . . .” sms dita padaku dan kawan-kawan.”
Pasti,,, tapi aku minta dispensasi waktu yaa soalnya pulangku agak sorean..hehe “ Jawabku pada sms Dita.
It’s okay kak indri,,, asal ngaretnya jangan banyak-banyak… ” jawab dita padaku.
BUBER yang kita laksanakan kira-kira sekitar sepuluh hari sebelum Idul Fitri, aku berangkat menuju tempat BUBER dengan temanku Datik, sampai di sana ternyata banyak teman-teman yang hadir mereka adalah Dita yang jadi panitia, Tiwi, Dimas, Fa’uz, Ahmad, Anton, Riza, Waluyo, Evi, Asnal, dan Tomo. kami pun temu kangen terlebih dahulu sambil menunggu adzan berbuka puasa. Tapi di tengah-tengah keceriaan kita, aku tidak melihat Fitri ikut acara BUBER itu,
Fitri kok gak ikut yaa? Apa gak ada yang kasih tahu?” tannyaku kepada teman-teman.
Iya kok gak ada Fitri yaa, coba tuh Tanya fa’uz yang tetanggan sama Fitri” Jawab Evi sambil melihat ke arah Fa’uz.
Iya uz, Fitri kenapa kok gak ikut BUBER?” tanyaku pada Fa’uz yang sedang bermain hape.
Wah aku juga gak tahu e, kan aku gak pernah di rumah jadi gak pernah ketemu sama dia. Oh iya aku lupa, tadi pas waktu sahur ibunya Fitri ngetuk rumah aku, katanya mau minta tolong nganterin Fitri ke Rumah Sakit” Jawabnnya jelas.
Lho emang dia sakit apa?”
Aku lupa Tanya ke Ayahku tadi, nanti coba aku tanyain yaa” jawabnya
Selepas acara BUBER aku dan datik pulang, di jalan kami ngobrol mengenai Fitri yang sedang sakit di Rumah Sakit. Kami pun berniat untuk menjenguknya. Tapi, beberapa hari kemudian kami mencoba menyempatkan untuk menjenguk Fitri tetapi gak sempet terus karena aku harus nglembur kerja dan datik ada acara di kampusnya.
Waktu berputar semakin cepat dan detik-detik takbir akan segera tiba, hari itu adalah hari terakhir aku bekerja dan sekaligus mennjadi hari terakhir di bulan Ramadhan tahun ini. Aku dan rekan-rekan kerjaku amat semangat bekerja. Dan di sela-sela banyaknya pengunjung di tokoku, saat itu juga ada berita duka yang dilontarkan oleh petugas pasar.
Siapa yang meninggal ya, kok berita dukanya di pasar sich” tanyaku dalam hati.
Kok luchu sich, berita duka kok disiarin di pasar” celoteh seorang pembeli.
Dalam berita duka itu petugas mengatakan bahwa yang menninggal dunia adalah anak dari Ibu Shoti’ah. Karena tidak kenal aku mendengarkan berita itu sekilas saja, tapi setelah disebutkan namanya, tiba-tiba hatiku beerdebar kencang dan air mata ini seakan-akan ingin jatuh. Ternyata orang yang meninggal itu tak lain adalah sahabatku Fitri. Sungguh aku tak percaya dia pergi secepat ini. beberapa kali aku memimpikan dia dan tetrnyata inilah jawabannya, Allah sengaja ingin memberi tahuku melalui mimpi bahwa aku tidak akan bertemu lagi dengan sahabatku Fitri. Sungguh aku menyesal karena aku belum sempat menengoknya ketika sakit. Akupun mengabari seluruh teman-temanku dan akhirnya yang bisa ikut takziyah hanya Datik. Ingin aku izin di sela-sela jam kerjaku untuk takziyah ke rumah Fitri dan melihatnya untuk terakhir kalinya. tapi, rasanya tak mungkin karena ini adalah hari terahir aku bekerja.
Sepulang kerja aku lewat di depan rumah Fitri, dan tak ku sangka aku melihat sebuah keranda hijau berisi jenazah Fitri yang diangkat menuju masjid untuk segera disholatkan. Air mataku pun tak terbendung. Akhirnya aku dan Datik pergi ke Rumah Fitri, dan di sana aku bertemu Ibunya yang menangis tersedu-sedu kehilangan anak perempuannya. Aku dan Datik pun tak kuasa menahan air mata karena kehilangan sahabat kami yang sudah 12 tahun bersama dalam menuuntut ilmu. Sungguh aku tak menyangka Fitri secepat itu meninggalkan kami semua. Fitri tutup usia pada usianya yang ke 20, ia meninggal setelah ±2 minggu dirawat di rumah sakit karena jatuh ketika akan mengambil air wudhlu. Mungkin ini adalah hadiah Idul Fitri yang diberikan Allah kepada Fitri, Allah tau yang terbaik bagi hambanya dan aku yakin Hari itu adalah hari yang baik dan Fitri untuk mengiringi kepergian sahabatku itu. Ya,, fitri telah pergi, air mata pun tak bisa ditahan melepas kepergiannya. Keikhlasan dan lantunan do’a serta ayat-ayat suci akan mengiringi langkahnya menuju Ridho Illahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar