Sabtu, 08 Agustus 2026

PERTEMUAN PERTAMA

 

    Aku masih ingat perasaan yang muncul pada hari itu. Grogi. Bukan karena harus berdiri di depan kelas dan menjelaskan sesuatu, melainkan karena untuk pertama kalinya aku akan datang ke sebuah rumah sebagai guru les. Saat itu aku masih kuliah, Mengajar les adalah sesuatu yang baru bagiku. Aku belum tahu seperti apa anak-anak yang akan kutemui. Aku bahkan belum tahu bagaimana suasana belajar yang akan kuhadapi. Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan.

Bagaimana kalau anak-anaknya nakal?

Bagaimana kalau mereka tidak mau mendengarkan?

Bagaimana kalau aku tidak bisa menguasai suasana?

Bagaimana kalau aku ternyata tidak pandai mengajar?

Semakin kupikirkan, semakin banyak kemungkinan yang muncul di kepala.

Begitulah aku waktu itu, Belum mulai mengajar, tetapi pikiranku sudah lebih dulu membuat berbagai skenario.

    Sistem les yang akan kujalani sebenarnya cukup unik. Mereka belajar secara berkelompok, tetapi tetap dalam suasana privat. Lima anak berkumpul di satu rumah, kemudian aku datang untuk mengajar mereka.

    Rumah itu adalah rumah Rena, yang kemudian menjadi semacam basecamp kecil kami. Ada alasan mengapa rumah Rena menjadi tempat yang paling memungkinkan untuk kegiatan les. Rena tinggal berdekatan dengan Fais dan Fajar. Mereka bertiga bahkan bisa dibilang tetangga dekat. Sepulang sekolah, mereka sering bermain bersama, sehingga rasanya tidak aneh jika kemudian mereka juga belajar bersama. Mereka semua juga bersekolah di SD yang sama. Berbeda dengan Risa. Rumah Risa agak jauh dari rumah Rena. Namun ada satu hal yang membuatnya tetap mudah bergabung dengan kami. Sepulang sekolah, Risa biasanya berada di rumah neneknya yang kebetulan letaknya dekat dengan rumah Rena dan akan dijemput orang tuanya setelah les selesai. Jadi, meskipun rumahnya tidak sedekat Rena, Fais, dan Fajar, Risa tetap bisa datang ke tempat les tanpa terlalu jauh. Lalu ada PutriRumah Putri lumayan jauh dibandingkan rumah teman-temannya. Karena itu, biasanya Putri diantar dan dijemput oleh ayahnya.

    Kalau dipikir-pikir sekarang, ada sesuatu yang lucu dari keadaan itu. Lima anak dengan rumah dan kehidupan yang berbeda, tetapi pada akhirnya bertemu di satu tempat yang sama. Rumah Rena, di sanalah kami mulai mengenal satu sama lain. Saat itu, lima nama tersebut belum memiliki arti khusus bagiku Rena. Putri. Risa. Fajar. Dan Fais.

Aku datang dengan perasaan campur aduk.

Ada gugup.

Ada penasaran.

Dan tentu saja ada sedikit rasa takut.

Ketika akhirnya sampai di rumah Rena, aku menarik napas sebentar sebelum masuk.

Aku tidak tahu bahwa langkah sederhana itu akan menjadi awal dari sebuah hubungan yang bertahan jauh lebih lama daripada yang pernah kubayangkan.

Pertemuan pertama kami ternyata jauh dari apa yang selama perjalanan tadi kubayangkan.

Tidak ada anak yang membuatku kewalahan.

Tidak ada keributan seperti yang kutakutkan.

Justru sebaliknya.

Mereka menyambutku dengan baik.

Satu per satu mulai mengenalkan diri. Kami mulai berbincang. Perlahan suasana yang awalnya terasa canggung menjadi lebih santai.

Dan saat itulah aku mulai menyadari sesuatu.

Anak-anak ini bukan hanya baik.

Mereka juga cerdas dan berani.

Mereka tidak takut bertanya.

Tidak ragu menyampaikan pendapat.

Kalau ada soal yang tidak mereka pahami, mereka akan bertanya.

Kalau ada jawaban yang menurut mereka berbeda, mereka berani menyampaikannya.

Mereka juga sudah terlihat akrab satu sama lain.

Rena, Fais, dan Fajar yang memang bertetangga dekat terlihat seperti tiga anak yang sudah terbiasa bermain bersama. Kadang suasana belajar terasa seperti perpanjangan dari waktu bermain mereka.

Risa pun tidak terlihat seperti orang asing meskipun rumahnya lebih jauh. Mungkin karena ia sudah sering berada di rumah neneknya yang dekat dengan rumah Rena.

Sementara Putri datang dengan cerita yang sedikit berbeda. Rumahnya jauh, dan sering kali ayahnya yang mengantar serta menjemputnya.

Lima anak.

Lima karakter.

Satu tempat belajar.

Dan satu guru yang waktu itu masih sibuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa mengajar mereka.

Aku yang sebelumnya sepanjang perjalanan berpikir,

“Bagaimana kalau mereka nakal?”

justru mulai berganti pikiran menjadi,

“Ternyata mereka menyenangkan.”

Hari pertama itu berjalan jauh lebih mudah dari yang kubayangkan.

Tidak terasa menakutkan.

Tidak sesulit yang ada di pikiranku.

Bahkan waktu terasa berlalu begitu cepat.

Dan ketika pelajaran selesai, aku pulang membawa perasaan yang berbeda dari ketika berangkat.

Kalau saat berangkat aku dipenuhi kekhawatiran, saat pulang justru ada rasa lega.

Ada sesuatu yang membuatku merasa nyaman.

Mungkin karena mereka menerima kehadiranku dengan baik.

Mungkin karena aku melihat mereka sebagai anak-anak yang punya keberanian untuk belajar dan bertanya.

Atau mungkin karena tanpa kusadari, hari itu memang sedang membuka sebuah pintu menuju cerita yang panjang.

Saat itu aku belum tahu bagaimana perjalanan mereka kelak.

Aku belum tahu siapa yang akan tumbuh menjadi seperti apa.

Aku belum tahu masalah apa yang suatu hari akan mereka ceritakan kepadaku.

Aku juga belum tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, kami masih akan saling berkomunikasi.

Yang kutahu saat itu hanya satu:

aku ingin kembali datang ke rumah Rena.

Ingin kembali duduk bersama lima anak itu.

Ingin melihat mereka belajar, bercanda, bertanya, dan sesekali membuat suasana menjadi ramai.

Aku datang sebagai seorang guru.

Mereka datang sebagai murid.

Tetapi waktu kemudian mengajarkan sesuatu yang tidak pernah ada dalam rencana les hari itu.

Bahwa beberapa orang yang awalnya hanya kita temui karena pekerjaan, ternyata bisa menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.

Dan lima anak yang pertama kali kukenal di rumah Rena itu...

kelak akan menjadi lima nama yang tidak mudah kulupakan.

Rena, Putri, Risa, Fajar, dan Fais.

Lima anak.

Satu ruang les.

Dan sebuah cerita yang ternyata belum selesai.

ENAM CERITA YANG TAK PERNAH SELESAI DI RUANG LES

    Ada hubungan yang awalnya kita pikir hanya akan berlangsung sebentar. Bertemu karena sebuah kebutuhan, saling mengenal karena sebuah keadaan. Lalu, ketika semuanya selesai, masing-masing akan kembali menjalani hidupnya sendiri. Begitulah yang dulu kupikirkan ketika pertama kali bertemu lima anak itu.

    Saat itu aku masih kuliah. Aku menjadi guru les untuk mereka, sementara mereka adalah anak-anak yang datang membawa buku pelajaran, tugas sekolah, dan segala macam cerita khas anak-anak seusia mereka.

Hubungan kami seharusnya sederhana.

Aku mengajar.

Mereka belajar.

Selesai.

Tapi ternyata, hidup punya rencana lain.

    Hari-hari berlalu. Aku menyelesaikan kuliah. Mereka naik kelas, tumbuh semakin besar dan mulai memiliki cita-cita, persoalan, pertemanan, kekecewaan, dan cerita mereka masing-masing. Dan anehnya, meskipun waktu terus berjalan, hubungan kami tidak benar-benar selesai. Kami masih sering berkomunikasi. Masih saling bertanya kabar lewat sosial media maupun Whatsapp. Masih sesekali bercanda tentang masa lalu.

    Kadang aku melihat mereka sekarang dan sulit percaya bahwa anak-anak yang dulu duduk di depanku dengan baju khas anak-anak itu sudah tumbuh sejauh ini. Mereka berubah, aku juga berubah. Ternyata selama bertahun-tahun itu, bukan hanya mereka yang belajar dariku, aku pun belajar dari mereka. Tentang kesabaran dari seorang anak yang berkali-kali tidak memahami pelajaran yang sama, Tentang keteguhan dari seseorang yang tetap berusaha meskipun berkali-kali gagal, Tentang kehilangan dari cerita yang tidak pernah mereka ceritakan sepenuhnya, Tentang mimpi-mimpi yang pernah mereka bicarakan dengan mata berbinar. Dan tentang kenyataan bahwa tumbuh dewasa tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan.

    Lima anak itu memiliki lima cerita yang berbeda. Ada cerita yang membuatku tertawa, membuatku bangga, khawatir dan ada yang pernah membuatku menangis diam-diam. Ada cerita yang bahkan sampai hari ini belum benar-benar selesai.

Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah ceritaku juga ada di sana?

Aku datang sebagai guru les, namun tanpa kusadari, aku ikut tumbuh bersama mereka.

    Karena itu, mungkin sebenarnya ada enam cerita di sini. Lima cerita tentang mereka dan satu cerita tentang aku. Enam perjalanan yang pernah bertemu di sebuah ruang les sederhana. Enam kehidupan yang terus berjalan ke arah masing-masing. Dan sebuah hubungan yang ternyata tidak berakhir ketika pelajaran terakhir selesai.

Inilah kisah tentang kami.

Enam cerita yang tak selesai di ruang les.

Senin, 27 Juli 2026

Freelance sebagai Tutor Les Privat Itu Nggak Salah Kok

Pejuangkeluarga, Di tengah perkembangan dunia kerja yang semakin fleksibel, masih ada anggapan bahwa pekerjaan yang "benar" adalah pekerjaan kantoran dengan jam kerja tetap. Akibatnya, banyak orang yang merasa minder ketika memilih menjadi freelancer atau tutor les privat. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Menjadi tutor les privat adalah pekerjaan yang mulia, bermanfaat, dan memiliki nilai ekonomi. Selama dilakukan dengan jujur, profesional, dan memberikan manfaat bagi orang lain, tidak ada yang salah dengan profesi ini.

Mengajar adalah Profesi yang Bermakna

Seorang tutor les privat bukan hanya mengajarkan materi pelajaran. Ia juga membantu siswa memahami konsep yang sulit, membangun rasa percaya diri, menumbuhkan semangat belajar, hingga mendampingi mereka mencapai target akademik.

Setiap kali seorang siswa akhirnya memahami materi yang sebelumnya terasa mustahil, di situlah seorang tutor telah memberikan dampak nyata dalam kehidupan seseorang.

Mengajar Tak Harus di Sekolah dan Berseragam

Masih banyak yang menganggap seseorang baru bisa disebut "guru" jika mengajar di sekolah, mengenakan seragam, dan berdiri di depan kelas. Padahal, hakikat seorang pendidik bukan terletak pada tempat mengajarnya, melainkan pada ilmu yang dibagikan dan manfaat yang diberikan.

Seorang tutor les privat juga mendidik. Mereka menyusun materi, menjelaskan konsep, memberikan latihan, mengevaluasi hasil belajar, bahkan sering kali menjadi penyemangat ketika siswa kehilangan motivasi. Semua itu adalah bagian dari proses pendidikan.

Baik mengajar di ruang kelas sekolah, di rumah siswa, secara daring, maupun di sebuah lembaga bimbingan belajar, semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu peserta didik berkembang. Yang membedakan hanyalah tempat dan sistem kerjanya.

Jadi, jangan pernah merasa profesimu kurang berharga hanya karena tidak mengenakan seragam guru setiap hari. Ilmu tetaplah ilmu, dan setiap orang yang mengajarkannya dengan penuh tanggung jawab adalah bagian dari dunia pendidikan.

Freelance Bukan Berarti Tidak Punya Pekerjaan

Masih banyak orang yang menganggap pekerjaan freelance hanya sekadar pekerjaan sampingan. Faktanya, banyak freelancer yang memiliki penghasilan stabil, bahkan lebih tinggi dibandingkan pekerjaan kantoran.

Tutor les privat juga termasuk seorang profesional. Mereka memiliki jadwal mengajar, menyusun materi, mempersiapkan evaluasi, berkomunikasi dengan orang tua, dan terus meningkatkan kemampuan mengajar. Semua itu membutuhkan tanggung jawab yang tidak sedikit.

Fleksibilitas adalah Nilai Tambah

Salah satu keuntungan menjadi tutor les privat adalah fleksibilitas waktu. Tutor dapat mengatur jadwal sesuai kesepakatan dengan siswa sehingga memiliki kesempatan untuk:

  • Mengembangkan kemampuan baru.
  • Mengikuti pelatihan atau sertifikasi.
  • Membangun usaha pendidikan sendiri.
  • Menjalankan pekerjaan lain secara bersamaan.
  • Memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga.

Fleksibilitas bukan berarti bekerja lebih santai, tetapi bekerja dengan cara yang lebih efektif dan sesuai kebutuhan.

Penghasilan Bisa Terus Bertumbuh

Banyak orang mengira tutor les privat memiliki penghasilan yang terbatas. Padahal, semakin banyak pengalaman, reputasi, dan kemampuan yang dimiliki, semakin besar pula peluang memperoleh penghasilan yang lebih baik.

Tutor juga dapat mengembangkan layanan seperti les privat individu, kelas kelompok kecil, pembelajaran online, penyusunan modul belajar, hingga bimbingan persiapan ujian. Dengan terus berinovasi, profesi ini dapat berkembang menjadi bisnis pendidikan yang menjanjikan.

Tidak Perlu Minder dengan Omongan Orang

Mungkin ada yang bertanya, "Kapan dapat pekerjaan tetap?" atau bahkan berkata, "Kenapa cuma jadi guru les?"

Pertanyaan seperti ini sering membuat seseorang merasa rendah diri. Padahal, ukuran kesuksesan bukan ditentukan oleh status pekerjaan, melainkan oleh manfaat yang diberikan, kemampuan memenuhi kebutuhan hidup, serta rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan.

Tidak semua orang harus bekerja di kantor. Tidak semua orang harus menjadi ASN atau pegawai perusahaan. Tidak semua pendidik harus mengajar di sekolah formal. Setiap orang memiliki jalan karier yang berbeda.

Selama pekerjaan tersebut halal, dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan memberikan manfaat bagi orang lain, maka pekerjaan itu layak untuk dibanggakan.

Terus Tingkatkan Profesionalisme

Menjadi tutor les privat bukan berarti berhenti belajar. Justru seorang tutor perlu terus berkembang agar kualitas mengajarnya semakin baik.

Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

  • Mengikuti pelatihan pendidikan.
  • Memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.
  • Membuat media belajar yang menarik.
  • Meminta umpan balik dari siswa dan orang tua.
  • Membangun personal branding melalui media sosial atau blog.

Semakin profesional seorang tutor, semakin besar pula kepercayaan yang diberikan oleh siswa dan orang tua.

Mengajar bukan tentang di mana kita berdiri, melainkan tentang siapa yang kita bantu untuk bertumbuh. Seragam bukanlah penentu kualitas seorang pendidik, dan ruang kelas bukan satu-satunya tempat lahirnya ilmu.

Freelance sebagai tutor les privat bukanlah pilihan yang salah. Justru profesi ini merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa. Selama pekerjaan itu halal, dilakukan dengan sepenuh hati, dan membawa manfaat bagi sesama, tidak ada alasan untuk merasa rendah diri.

Karena sejatinya, seorang pendidik tidak diukur dari pakaian yang dikenakan atau gedung tempat ia mengajar, tetapi dari ilmu yang dibagikan, karakter yang dibentuk, dan kehidupan yang berhasil ia ubah menjadi lebih baik.

Minggu, 26 Juli 2026

Cara Mendapatkan Uang dari Rumah: 10 Peluang ini bisa dicoba

Pejuangkeluarga, Di era digital seperti sekarang, mendapatkan penghasilan tidak lagi harus bekerja di kantor. Dengan koneksi internet dan kemauan untuk belajar, siapa pun memiliki kesempatan untuk menghasilkan uang dari rumah. Baik sebagai pekerjaan sampingan maupun sumber penghasilan utama, ada banyak pilihan yang dapat disesuaikan dengan kemampuan dan minat.

1. Menjadi Freelancer

Freelancer adalah seseorang yang menawarkan jasa kepada klien tanpa terikat sebagai karyawan tetap. Pekerjaan yang banyak dicari antara lain:

  • Menulis artikel
  • Desain grafis
  • Editing video
  • Penerjemahan
  • Admin media sosial
  • Data entry

Semakin baik portofolio yang dimiliki, semakin besar peluang mendapatkan klien dengan bayaran yang lebih tinggi.

2. Mengajar Les Online

Jika memiliki kemampuan di bidang akademik, bahasa asing, atau keterampilan tertentu, mengajar secara online bisa menjadi pilihan yang menjanjikan. Saat ini banyak orang tua maupun pelajar yang mencari guru les privat melalui internet.

Selain fleksibel, pekerjaan ini juga memberikan kepuasan karena dapat membantu orang lain belajar.

3. Berjualan di Marketplace

Marketplace memudahkan siapa saja untuk memulai bisnis tanpa harus memiliki toko fisik. Produk yang dapat dijual meliputi:

  • Fashion
  • Makanan ringan
  • Alat tulis
  • Perlengkapan rumah tangga
  • Produk digital

Pastikan memberikan pelayanan yang baik agar mendapatkan ulasan positif dari pembeli.

4. Menjadi Reseller atau Dropshipper

Bagi yang belum memiliki modal besar, menjadi reseller atau dropshipper merupakan pilihan yang tepat. Anda cukup memasarkan produk dari supplier tanpa harus memproduksi barang sendiri.

Model bisnis ini relatif mudah dijalankan dari rumah dan cocok untuk pemula.

5. Membuat Konten Digital

Konten berupa video, artikel blog, podcast, maupun media sosial dapat menghasilkan pendapatan apabila memiliki audiens yang berkembang.

Beberapa sumber penghasilan kreator konten meliputi:

  • Iklan
  • Kerja sama dengan brand
  • Program afiliasi
  • Penjualan produk digital

Konsistensi menjadi kunci utama dalam membangun audiens.

6. Mengikuti Program Affiliate Marketing

Affiliate marketing adalah sistem pemasaran di mana seseorang memperoleh komisi setiap kali berhasil mengajak orang lain membeli produk melalui tautan yang dibagikan.

Cara ini cocok bagi pemilik blog, media sosial, maupun kanal YouTube.

7. Menjual Produk Digital

Produk digital tidak memerlukan stok fisik sehingga dapat dijual berkali-kali. Contohnya:

  • Ebook
  • Template
  • Desain
  • Worksheet
  • Presentasi
  • Kalender digital

Setelah dibuat, produk dapat terus menghasilkan pendapatan selama masih diminati.

8. Membuka Jasa Administrasi Online

Banyak pelaku UMKM membutuhkan bantuan dalam mengelola administrasi, seperti:

  • Input data
  • Membalas email
  • Membuat laporan sederhana
  • Menjadwalkan pertemuan
  • Mengelola dokumen

Pekerjaan ini dapat dilakukan sepenuhnya dari rumah.

9. Menulis Blog

Blog masih menjadi salah satu media yang dapat menghasilkan uang dalam jangka panjang. Penghasilan dapat berasal dari:

  • Iklan
  • Affiliate marketing
  • Artikel sponsor
  • Penjualan produk sendiri

Kunci sukses membangun blog adalah membuat artikel yang bermanfaat, berkualitas, dan konsisten.

10. Membuka Jasa Desain atau Editing

Jika memiliki kemampuan menggunakan aplikasi desain maupun editing, peluang ini sangat menjanjikan. Banyak pelaku usaha membutuhkan desain logo, poster, brosur, banner, hingga konten media sosial.

Semakin banyak pengalaman dan portofolio, semakin tinggi pula nilai jasa yang dapat ditawarkan.

Tips Agar Cepat Mendapatkan Penghasilan dari Rumah

Agar usaha yang dijalankan lebih cepat berkembang, lakukan beberapa hal berikut:

  • Fokus pada satu bidang terlebih dahulu.
  • Tingkatkan kemampuan melalui kursus atau belajar mandiri.
  • Bangun portofolio yang menarik.
  • Berikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.
  • Konsisten mempromosikan jasa atau produk.
  • Kelola keuangan dengan baik.

        Mendapatkan uang dari rumah bukan lagi hal yang mustahil. Dengan memilih peluang yang sesuai dengan kemampuan, terus belajar, dan bekerja secara konsisten, siapa pun memiliki kesempatan untuk memperoleh penghasilan tambahan bahkan membangun bisnis yang berkelanjutan.

        Jangan menunggu semuanya sempurna untuk memulai. Langkah kecil yang dilakukan hari ini bisa menjadi awal dari kesuksesan di masa depan.

Jumat, 31 Oktober 2014

TEKNOLOGI PENYEBAB KEGILAAN



Dewasa ini manusia memang sudah tidak asing lagi dengan yang namanya teknologi. Bahkan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, aktivitas manusia pun menjadi lebih mudah dan cepat selesai. Tetapi disamping itu, teknologi juga membawa dampak yang kurang baik bagi manusia, yakni timbulnya ketergantungan dengan teknologi. Kita bisa membuktikannya dengan contoh kecil yang ada di sekitar kita, yakni ketika sedang mengerjakan tugas kuliah seperti membuat makalah atau karya tulis lainnya. Mahasiswa sekarang ini lebih mengandalkan browsing dari pada pusing. Tak heran jika ada dosen yang mengatakan bahwa mahasiswa sekarang ini memang pantas mendapatkan gelar SPd.I yakni Sarjana Pendownload Internet. Celetukkan itu memang sebuah sindiran dari seorang dosen yang memang sudah mangkel dengan tugas-tugas mahasiswa yang sering kali mengunduh dari internet. sebenarnya, ungkapan itu merupakan bukti kepedulian dosen terhadap mahasiswa, agar tidak terlalu berlebihan menggunakan teknologi khususnya internet. Disamping dampaknya bisa membuat mahasiswa menjadi pasif, Hal tersebut juga dapat menyebabkan kurangnya aktivitas otak hingga mengakibatkan tidak seimbang dan cepat lelah karena tidak pernah diasah. Ironisnya, saat ini masih banyak mahasiswa yang lebih mengandalkan browsing dibanding pergi ke perpustakaan untuk mencari buku.
Peran teknologi sekarang ini memang sangat penting dan tidak bisa  ditinggalkan, apalagi dalam hal pendidikan yang membutuhkan berbagai macam informasi untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Mau tidak mau kita harus mengikuti arus modernisasi yang memunculkan berbagai macam teknologi canggih, dan sangat membantu kita untuk menyelesaikan aktivitas. Tapi perlu dicatat bahwa dalam pendayagunaan teknologi juga harus disaring (Filterisasi) karena seperti yang telah dibahas di atas, penggunaan teknologi yang berlebihan tanpa disertai filter dapat menimbulkan dampak yang tidak baik bagi pengguna.

Dulu ketika teknologi belum secanggih ini, seseorang yang kebetulan seorang guru PKN di sebuah Madrasah Aliyah di Kudus, berbincang-bincang mengenai globalisasi, dan di sela-sela perbincangannya itu, beliau pernah mengatakan bahwa “manusia besok (generasi yang akan datang) kebanyakan adalah orang gila”. Mendengar ungkapan itu, para siswa di kelas sempat tercengang dan bertanya-tanya dalam hati. Tapi setelah Beliau menjelaskan makna dari kata tersebut saya pun tersenyum dan menganggukkan kepala dalam hati karena setuju dengan ungkapan tersebut. bagaimana tidak? Teknologi setiap tahun semakin canggih, banyak orang berbicara sendiri di jalan (menelfon), banyak orang berbicara dengan laptop dan handpone (video call), banyak orang tersenyum sendiri ketika melihat ponsel (sms). Apakah itu tidak gila namanya?. Jadi jangan salahkan jika bumi ini akan penuh dengan orang-orang gila seiring berkembangnya teknologi.

By: iin_B.L.B.N

Selasa, 19 Agustus 2014

Idul Fitri Buat Fitri

Senja akan berganti malam yang berhias bintang, menyambut bulan ramadhan yang akan datang keesokan harinya. Entah kenapa belakangan ini aku teringat akan sahabat karibku ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu. Namanya Fitri, kami sudah berteman dari sejak masih di Sekolah Dasar hingga Aliyah, walaupun kami tidak selalu satu kelas, tapi kami sering bertemu. Setelah, lulus dari Aliyah kami memang jarang bertemu bahkan tidak pernah. Aku tak tahu apakah ini hanya perasaan rindu dengannya atau pertanda lainnya. Aku sudah beberapa kali bermimpi tentang sahabatku itu, dan apabila aku bertanya kepada Ibuku, beliau menjawab, “Mungkin kamu sedang rindu dengannya, kalian kan sudah 2 tahun tidak pernah bertemu, kenapa gak ngadain Buka bersama aja kan bisa sekalian reuni dengan teman-teman” begitulah saran beliau kepadaku. Sepertinya boleh jug ide Ibuku itu, tapi memang tak mudah berkomunikasi dengan teman-teman SDku dulu. Apalagi kita sudah 8 tahun tak bertemu.
Saat bulan Ramadhan aku mengisi waktu luangku dengan kerja sambilan di toko baju tepatnya di sebuah pasar tradisional. Kebetulan kuliahku sedang liburan semester, jadi sayang kalau waktunya hanya digunakan untuk duduk manis dirumah dan tidak mempunyai kesibukan. Ketika pertama aku bekerja di toko, tak sengaja aku bertemu dengan ibu sahabatku fitri yang juga berdagang di pasar. Beliau menjual kebaya dan seragam serta menjahit kebaya sesuai dengan pesanan para pelanggan.
Assalamu’alaikum bu…” sapaku kepada ibu fitri.
wa’alaikumsalam…eh kamu in, ibu kira siapa,, kamu katanya kuliah yaa?” jawab ibu fitri dengan tersenyum
hehe…iya bu, Alhamdulillah atas Ridhlo Allah saya bisa nerusin kuliah”
kamu kok tumben ke pasar, mau belanja apa?” Tanya ibu fitri.
enggak bu, kebetulan kuliah saya sedang liburan semester, jadi saya kerja buat ngisi waktu luang, Oh iya bu, fitri sekarang kerja di mana yaa kok saya gak pernah ketemu?” tanyaku pada ibu fitri
di rumah aja in, kadang dia juga nganter jemput ibu ke pasar” jelas ibu fitri padaku
Owh,,, yaudah bu saya mau kesini dulu takut dicariin bos saya…Assalamu’alaikum” pamitku sambil bersalaman dengan ibu fitri.
owh iya,,iya,, wa’alaikumsalam, kapan-kapan mampir kerumah yaa?”
Pasti bu kalau ada waktu luang saya mampir” jawabku kepada ibu Fitri
Aku berjalan meninggalkan ibu fitri dan menuju tempat kerjaku dan akupun kembali bekerja. Aku dan fitri sudah sangat dekat bahkan hampir seperti keluarga. Fitri mempunyai keluarga yang sangat bahagia walaupun hidup mereka sederhana. Sejak masih berusia beberapa bulan fitri sudah ditinggal oleh ayahnya sama sepertiku, hanya bedanya aku ditinggal ayahku sejak masih dalam kandungan ibuku. Fitri mempunyai satu kakak dan adik laki-laki. Jadi dia adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarganya. Fitri terbilang sangat pendiam dan gak suka neko-neko, rajin, dan mengalah, bahkan dia rela berjalan kaki ketika berangkat ke sekolah dan sepedanya diberikan untuk adiknya. Kalau ingat zaman-zaman sekolah dulu aku suka ingin balik jadi anak sekolah lagi yang suka kumpul-kumpul sama temen-temen, belajar bareng, dan nyepeda bareng kalau mau berangkat dan pulang sekolah. Sayang semua itu sudah tinggal kenangan.
Selang waktu berganti, tak terasa ramadhan pun sudah sampai pada pertengahan bulan. Waktu benar-benar terasa sangat cepat berlalu, dan sebentar lagi Idul Fitri pun akan tiba. Setelah pulang tarawih dan tadarus aku biasanya bermain social media seperti twitter, facebook, dan email. Dan ketika aku membuka twitter, salah satu temanku saat SD mengirirm pesan di twitter.
Hai kakak-kakak alumni SD 1 Wergu Kulon, tolong kirim Nomor Hape kalian yaa… karena akan ada info yang sangat penting untuk kalian..hehe. jangan Lupa yaa
Setelah aku baca ternyata pesannya dari Dita teman SDku dulu, tanpa pikir panjang akupun mengirimkan nomor hapeku kepada Dita. Keesokan harinya, aku mendapat sms dari Dita yang isinya adalah:
Assalamu’alaikum kakak-kakak, kita ada rencana mau ngadain BUBER nich, yaa itung-itung sekalian reuni lah…tolong yang belum tahu dikasih tau yaa dan yang bisa hadir silahkan konfirmasi sekarang…nanti tempatnya ditentuin bareng-bareng”
Akupun setuju dengan rencana itu dan aku usahain untuk datang walaupun kerjaku pulangnya sore. Tak sabar menanti moment-moment kebersamaan bersama alumni-alumni temen SD dulu. Hingga terlintas olehku
Gimana yaa penampilan teman-teman SD dulu? Pasti udah pada berubah dech? Jadi gak sabar pengen cepet-cepet BUBER…hehehe”
Tak lama kemudian Dita mengirimkan sms lanjutan sehubungan dengan acara BUBER kita.
Hai…pasti udah gak sabar yaa menanti BUBER kita lusa, besok kita BUBER tempatnya di wajan mas belakang gedung DPRD jam setengah 5. Inget yaa kakak-kakak harus on time jangan ngaret-ngaret yaCh . . .” sms dita padaku dan kawan-kawan.”
Pasti,,, tapi aku minta dispensasi waktu yaa soalnya pulangku agak sorean..hehe “ Jawabku pada sms Dita.
It’s okay kak indri,,, asal ngaretnya jangan banyak-banyak… ” jawab dita padaku.
BUBER yang kita laksanakan kira-kira sekitar sepuluh hari sebelum Idul Fitri, aku berangkat menuju tempat BUBER dengan temanku Datik, sampai di sana ternyata banyak teman-teman yang hadir mereka adalah Dita yang jadi panitia, Tiwi, Dimas, Fa’uz, Ahmad, Anton, Riza, Waluyo, Evi, Asnal, dan Tomo. kami pun temu kangen terlebih dahulu sambil menunggu adzan berbuka puasa. Tapi di tengah-tengah keceriaan kita, aku tidak melihat Fitri ikut acara BUBER itu,
Fitri kok gak ikut yaa? Apa gak ada yang kasih tahu?” tannyaku kepada teman-teman.
Iya kok gak ada Fitri yaa, coba tuh Tanya fa’uz yang tetanggan sama Fitri” Jawab Evi sambil melihat ke arah Fa’uz.
Iya uz, Fitri kenapa kok gak ikut BUBER?” tanyaku pada Fa’uz yang sedang bermain hape.
Wah aku juga gak tahu e, kan aku gak pernah di rumah jadi gak pernah ketemu sama dia. Oh iya aku lupa, tadi pas waktu sahur ibunya Fitri ngetuk rumah aku, katanya mau minta tolong nganterin Fitri ke Rumah Sakit” Jawabnnya jelas.
Lho emang dia sakit apa?”
Aku lupa Tanya ke Ayahku tadi, nanti coba aku tanyain yaa” jawabnya
Selepas acara BUBER aku dan datik pulang, di jalan kami ngobrol mengenai Fitri yang sedang sakit di Rumah Sakit. Kami pun berniat untuk menjenguknya. Tapi, beberapa hari kemudian kami mencoba menyempatkan untuk menjenguk Fitri tetapi gak sempet terus karena aku harus nglembur kerja dan datik ada acara di kampusnya.
Waktu berputar semakin cepat dan detik-detik takbir akan segera tiba, hari itu adalah hari terakhir aku bekerja dan sekaligus mennjadi hari terakhir di bulan Ramadhan tahun ini. Aku dan rekan-rekan kerjaku amat semangat bekerja. Dan di sela-sela banyaknya pengunjung di tokoku, saat itu juga ada berita duka yang dilontarkan oleh petugas pasar.
Siapa yang meninggal ya, kok berita dukanya di pasar sich” tanyaku dalam hati.
Kok luchu sich, berita duka kok disiarin di pasar” celoteh seorang pembeli.
Dalam berita duka itu petugas mengatakan bahwa yang menninggal dunia adalah anak dari Ibu Shoti’ah. Karena tidak kenal aku mendengarkan berita itu sekilas saja, tapi setelah disebutkan namanya, tiba-tiba hatiku beerdebar kencang dan air mata ini seakan-akan ingin jatuh. Ternyata orang yang meninggal itu tak lain adalah sahabatku Fitri. Sungguh aku tak percaya dia pergi secepat ini. beberapa kali aku memimpikan dia dan tetrnyata inilah jawabannya, Allah sengaja ingin memberi tahuku melalui mimpi bahwa aku tidak akan bertemu lagi dengan sahabatku Fitri. Sungguh aku menyesal karena aku belum sempat menengoknya ketika sakit. Akupun mengabari seluruh teman-temanku dan akhirnya yang bisa ikut takziyah hanya Datik. Ingin aku izin di sela-sela jam kerjaku untuk takziyah ke rumah Fitri dan melihatnya untuk terakhir kalinya. tapi, rasanya tak mungkin karena ini adalah hari terahir aku bekerja.
Sepulang kerja aku lewat di depan rumah Fitri, dan tak ku sangka aku melihat sebuah keranda hijau berisi jenazah Fitri yang diangkat menuju masjid untuk segera disholatkan. Air mataku pun tak terbendung. Akhirnya aku dan Datik pergi ke Rumah Fitri, dan di sana aku bertemu Ibunya yang menangis tersedu-sedu kehilangan anak perempuannya. Aku dan Datik pun tak kuasa menahan air mata karena kehilangan sahabat kami yang sudah 12 tahun bersama dalam menuuntut ilmu. Sungguh aku tak menyangka Fitri secepat itu meninggalkan kami semua. Fitri tutup usia pada usianya yang ke 20, ia meninggal setelah ±2 minggu dirawat di rumah sakit karena jatuh ketika akan mengambil air wudhlu. Mungkin ini adalah hadiah Idul Fitri yang diberikan Allah kepada Fitri, Allah tau yang terbaik bagi hambanya dan aku yakin Hari itu adalah hari yang baik dan Fitri untuk mengiringi kepergian sahabatku itu. Ya,, fitri telah pergi, air mata pun tak bisa ditahan melepas kepergiannya. Keikhlasan dan lantunan do’a serta ayat-ayat suci akan mengiringi langkahnya menuju Ridho Illahi.

Kamis, 15 Mei 2014

DISKRIMINASI




DISKRIMINASI YANG SEMAKIN MERAJALELA
DI BERBAGAI KALANGAN


            Pengertian diskriminasi dalam ruang lingkup hukum hak asasi manusia Indonesia (human rights law) dapat dilihat dalam Pasal 1 Ayat (3) UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang berbunyi, “Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung atau tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan, pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya”.
Ketentuan mengenai larangan diskriminasi di atas juga diatur dalam International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) yang telah diratifikasi oleh Indonesia dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005. Article 2 ICCPR berbunyi, “Each State Party to the present Covenant undertakes to respect and ensure to all individuals within its territory and subject to its jurisdiction the rights recognized in the present Covenant, without distinction of any kind, such as race, color, sex, language, religion, political or other opinion, national or social origin, property, birth or other status”.
Mengacu pada kedua pemaknaan tersebut, Mahkamah Konstitusi dalam Putusan 028-029/PUU-IV/2006 menyatakan bahwa diskriminasi harus diartikan sebagai setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama (religion), ras (race), warna (color), jenis kelamin (sex), bahasa (language), kesatuan politik (political opinion).
            Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan karena kecenderungan manusian untuk membeda-bedakan yang lain. Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena karakteristik suku, antargolongan, kelamin, ras, agama dan kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik atau karateristik lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi.
Diskriminasi langsung, terjadi saat hukum, peraturan atau kebijakan jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu, seperti jenis kelamin, ras, dan sebagainya, dan menghambat adanya peluang yang sama.
Diskriminasi merupakan sikap penindasan terhadap kaum yang dianggap kurang mampu melakukan sesuatu tetapi  justru realitanya saat ini yang sering terlihat dalam realitanya kaum yang terdiskriminasi tersebut malah unggul dalam segala hal. Seperti yang sering terjadi dalam lingkungan kampus khususnya dalam UKM yang sering terjadi diskriminasi terhadap kaum yang lemah khususnya para wanita.
Sering saya menemukan adanya deskriminasi kaum pria terhadap kaum wanita di dalam lingkup kegiatan Mahasiswa yang mungkin persoalan ini memang tidak terlalu disadari oleh para penghuni UKM. Kita tahu bahwa UKM merupakan tempat untuk menyalurkan bakat dan keterampilan kita. Tetapi, adanya diskriminasi justru menimbulkan dampak yang berkebalikan dari tujuan utama kita masuk UKM. Diskriminasi ini misalnya terjadi pada kaum wanita khususnya bagi mereka yang “tidak terlalu menarik”. Mereka sering mendapat perlakuan yang berbeda dibandingkan mereka yang berpenampilan menarik. Para penghuni UKM bahkan tidak memperdulikan keberadaan mereka padahal kebanyakan kaum yang terdiskriminasi itu mempunyai bakat dan keterampilan yang lebih. Keikutsertaan dia dalam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) adalah bertujuan untuk mengembangkan bakat dan keterampilannya tetapi dengan adanya deskriminasi dalam suatu organisasi menyebabkan ia minder untuk mengikuti kegiatan di dalamnya sehingga bakat yang ia miliki tidak berkembang tetapi malah justru hilang karena tidak pernah dikembangkan. Dan disaat itu juga kaum yang terdiskriminasi mengalami Disequillibrilium (kebingungan) apakah ia harus keluar untuk berorganisasi ataukan berlanjut tetapi tetap tidak dihiraukan di dalam organisasi.
Dengan beberapa gambaran seperti yang telah dipaparkan di atas diharapkan kita sesame manusia harus saling menghargai dan menghormati satu sama lainnya dan jangan sekali-kali memperlakukan manusia secara tidak adil apalagi karena faktor tertentu. Islam mengajarkan kita untuk selalu menebarkan kerukunan antar sesame muslim maupun non muslim. Derajat kita dimata Allah adalah sama kita tidak berhak men’Judge’ orang lain kecuali Allah semata. Firman Allah pada Q.S Al-Maidah: 8: 
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Sumber:
www.wikipedia.org diunduh tanggal 16 Mei 2014
http://prastiawan65.blogspot.com/ diunduh tanggal 16 Mei 2014
Undang-undang Dasar tahun 1945