Sabtu, 08 Agustus 2026

PERTEMUAN PERTAMA

 

    Aku masih ingat perasaan yang muncul pada hari itu. Grogi. Bukan karena harus berdiri di depan kelas dan menjelaskan sesuatu, melainkan karena untuk pertama kalinya aku akan datang ke sebuah rumah sebagai guru les. Saat itu aku masih kuliah, Mengajar les adalah sesuatu yang baru bagiku. Aku belum tahu seperti apa anak-anak yang akan kutemui. Aku bahkan belum tahu bagaimana suasana belajar yang akan kuhadapi. Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan.

Bagaimana kalau anak-anaknya nakal?

Bagaimana kalau mereka tidak mau mendengarkan?

Bagaimana kalau aku tidak bisa menguasai suasana?

Bagaimana kalau aku ternyata tidak pandai mengajar?

Semakin kupikirkan, semakin banyak kemungkinan yang muncul di kepala.

Begitulah aku waktu itu, Belum mulai mengajar, tetapi pikiranku sudah lebih dulu membuat berbagai skenario.

    Sistem les yang akan kujalani sebenarnya cukup unik. Mereka belajar secara berkelompok, tetapi tetap dalam suasana privat. Lima anak berkumpul di satu rumah, kemudian aku datang untuk mengajar mereka.

    Rumah itu adalah rumah Rena, yang kemudian menjadi semacam basecamp kecil kami. Ada alasan mengapa rumah Rena menjadi tempat yang paling memungkinkan untuk kegiatan les. Rena tinggal berdekatan dengan Fais dan Fajar. Mereka bertiga bahkan bisa dibilang tetangga dekat. Sepulang sekolah, mereka sering bermain bersama, sehingga rasanya tidak aneh jika kemudian mereka juga belajar bersama. Mereka semua juga bersekolah di SD yang sama. Berbeda dengan Risa. Rumah Risa agak jauh dari rumah Rena. Namun ada satu hal yang membuatnya tetap mudah bergabung dengan kami. Sepulang sekolah, Risa biasanya berada di rumah neneknya yang kebetulan letaknya dekat dengan rumah Rena dan akan dijemput orang tuanya setelah les selesai. Jadi, meskipun rumahnya tidak sedekat Rena, Fais, dan Fajar, Risa tetap bisa datang ke tempat les tanpa terlalu jauh. Lalu ada PutriRumah Putri lumayan jauh dibandingkan rumah teman-temannya. Karena itu, biasanya Putri diantar dan dijemput oleh ayahnya.

    Kalau dipikir-pikir sekarang, ada sesuatu yang lucu dari keadaan itu. Lima anak dengan rumah dan kehidupan yang berbeda, tetapi pada akhirnya bertemu di satu tempat yang sama. Rumah Rena, di sanalah kami mulai mengenal satu sama lain. Saat itu, lima nama tersebut belum memiliki arti khusus bagiku Rena. Putri. Risa. Fajar. Dan Fais.

Aku datang dengan perasaan campur aduk.

Ada gugup.

Ada penasaran.

Dan tentu saja ada sedikit rasa takut.

Ketika akhirnya sampai di rumah Rena, aku menarik napas sebentar sebelum masuk.

Aku tidak tahu bahwa langkah sederhana itu akan menjadi awal dari sebuah hubungan yang bertahan jauh lebih lama daripada yang pernah kubayangkan.

Pertemuan pertama kami ternyata jauh dari apa yang selama perjalanan tadi kubayangkan.

Tidak ada anak yang membuatku kewalahan.

Tidak ada keributan seperti yang kutakutkan.

Justru sebaliknya.

Mereka menyambutku dengan baik.

Satu per satu mulai mengenalkan diri. Kami mulai berbincang. Perlahan suasana yang awalnya terasa canggung menjadi lebih santai.

Dan saat itulah aku mulai menyadari sesuatu.

Anak-anak ini bukan hanya baik.

Mereka juga cerdas dan berani.

Mereka tidak takut bertanya.

Tidak ragu menyampaikan pendapat.

Kalau ada soal yang tidak mereka pahami, mereka akan bertanya.

Kalau ada jawaban yang menurut mereka berbeda, mereka berani menyampaikannya.

Mereka juga sudah terlihat akrab satu sama lain.

Rena, Fais, dan Fajar yang memang bertetangga dekat terlihat seperti tiga anak yang sudah terbiasa bermain bersama. Kadang suasana belajar terasa seperti perpanjangan dari waktu bermain mereka.

Risa pun tidak terlihat seperti orang asing meskipun rumahnya lebih jauh. Mungkin karena ia sudah sering berada di rumah neneknya yang dekat dengan rumah Rena.

Sementara Putri datang dengan cerita yang sedikit berbeda. Rumahnya jauh, dan sering kali ayahnya yang mengantar serta menjemputnya.

Lima anak.

Lima karakter.

Satu tempat belajar.

Dan satu guru yang waktu itu masih sibuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa mengajar mereka.

Aku yang sebelumnya sepanjang perjalanan berpikir,

“Bagaimana kalau mereka nakal?”

justru mulai berganti pikiran menjadi,

“Ternyata mereka menyenangkan.”

Hari pertama itu berjalan jauh lebih mudah dari yang kubayangkan.

Tidak terasa menakutkan.

Tidak sesulit yang ada di pikiranku.

Bahkan waktu terasa berlalu begitu cepat.

Dan ketika pelajaran selesai, aku pulang membawa perasaan yang berbeda dari ketika berangkat.

Kalau saat berangkat aku dipenuhi kekhawatiran, saat pulang justru ada rasa lega.

Ada sesuatu yang membuatku merasa nyaman.

Mungkin karena mereka menerima kehadiranku dengan baik.

Mungkin karena aku melihat mereka sebagai anak-anak yang punya keberanian untuk belajar dan bertanya.

Atau mungkin karena tanpa kusadari, hari itu memang sedang membuka sebuah pintu menuju cerita yang panjang.

Saat itu aku belum tahu bagaimana perjalanan mereka kelak.

Aku belum tahu siapa yang akan tumbuh menjadi seperti apa.

Aku belum tahu masalah apa yang suatu hari akan mereka ceritakan kepadaku.

Aku juga belum tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, kami masih akan saling berkomunikasi.

Yang kutahu saat itu hanya satu:

aku ingin kembali datang ke rumah Rena.

Ingin kembali duduk bersama lima anak itu.

Ingin melihat mereka belajar, bercanda, bertanya, dan sesekali membuat suasana menjadi ramai.

Aku datang sebagai seorang guru.

Mereka datang sebagai murid.

Tetapi waktu kemudian mengajarkan sesuatu yang tidak pernah ada dalam rencana les hari itu.

Bahwa beberapa orang yang awalnya hanya kita temui karena pekerjaan, ternyata bisa menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.

Dan lima anak yang pertama kali kukenal di rumah Rena itu...

kelak akan menjadi lima nama yang tidak mudah kulupakan.

Rena, Putri, Risa, Fajar, dan Fais.

Lima anak.

Satu ruang les.

Dan sebuah cerita yang ternyata belum selesai.

ENAM CERITA YANG TAK PERNAH SELESAI DI RUANG LES

    Ada hubungan yang awalnya kita pikir hanya akan berlangsung sebentar. Bertemu karena sebuah kebutuhan, saling mengenal karena sebuah keadaan. Lalu, ketika semuanya selesai, masing-masing akan kembali menjalani hidupnya sendiri. Begitulah yang dulu kupikirkan ketika pertama kali bertemu lima anak itu.

    Saat itu aku masih kuliah. Aku menjadi guru les untuk mereka, sementara mereka adalah anak-anak yang datang membawa buku pelajaran, tugas sekolah, dan segala macam cerita khas anak-anak seusia mereka.

Hubungan kami seharusnya sederhana.

Aku mengajar.

Mereka belajar.

Selesai.

Tapi ternyata, hidup punya rencana lain.

    Hari-hari berlalu. Aku menyelesaikan kuliah. Mereka naik kelas, tumbuh semakin besar dan mulai memiliki cita-cita, persoalan, pertemanan, kekecewaan, dan cerita mereka masing-masing. Dan anehnya, meskipun waktu terus berjalan, hubungan kami tidak benar-benar selesai. Kami masih sering berkomunikasi. Masih saling bertanya kabar lewat sosial media maupun Whatsapp. Masih sesekali bercanda tentang masa lalu.

    Kadang aku melihat mereka sekarang dan sulit percaya bahwa anak-anak yang dulu duduk di depanku dengan baju khas anak-anak itu sudah tumbuh sejauh ini. Mereka berubah, aku juga berubah. Ternyata selama bertahun-tahun itu, bukan hanya mereka yang belajar dariku, aku pun belajar dari mereka. Tentang kesabaran dari seorang anak yang berkali-kali tidak memahami pelajaran yang sama, Tentang keteguhan dari seseorang yang tetap berusaha meskipun berkali-kali gagal, Tentang kehilangan dari cerita yang tidak pernah mereka ceritakan sepenuhnya, Tentang mimpi-mimpi yang pernah mereka bicarakan dengan mata berbinar. Dan tentang kenyataan bahwa tumbuh dewasa tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan.

    Lima anak itu memiliki lima cerita yang berbeda. Ada cerita yang membuatku tertawa, membuatku bangga, khawatir dan ada yang pernah membuatku menangis diam-diam. Ada cerita yang bahkan sampai hari ini belum benar-benar selesai.

Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah ceritaku juga ada di sana?

Aku datang sebagai guru les, namun tanpa kusadari, aku ikut tumbuh bersama mereka.

    Karena itu, mungkin sebenarnya ada enam cerita di sini. Lima cerita tentang mereka dan satu cerita tentang aku. Enam perjalanan yang pernah bertemu di sebuah ruang les sederhana. Enam kehidupan yang terus berjalan ke arah masing-masing. Dan sebuah hubungan yang ternyata tidak berakhir ketika pelajaran terakhir selesai.

Inilah kisah tentang kami.

Enam cerita yang tak selesai di ruang les.